Minggu, 12 Oktober 2014

Peran utama orangtua dalam mendidik anaknya

Orang tua seharusnya memahami bahwa merekalah sebagai penanggung jawab utama dalam pendidikan putra-putrinya. Dan secara umum, berhasil tidaknya pendidikan seorang anak biasanya dihubungkan dengan perkembangan pribadi orang tuanya dan baik tidaknya hubungan, komunikasi dan role model dalam keluarga.
Dewasa ini banyak orang tua memutuskan untuk memberikan sistim pendidikan home-schooling bagi anak-anaknya. Tetapi tidak semua orang tua mempunyai cukup waktu, keahlian dan kesabaran untuk memberikan sistim pendidikan ini kepada anaknya. Juga perlu diwaspadai apakah anak akan berkembang secara utuh, terutama dari aspek sosial, dan emosional, karena mereka hanya berhubungan dengan orang-tuanya saja.
Di kota-kota besar dengan menjamurnya sekolah-sekolah internasional ataupun nasional plus, banyak orang tua berpandangan bahwa apabila mereka mengirimkan putra-putrinya ke sekolah yang bergengsi atau sekolah favorit, mereka tidak perlu berurusan lagi tentang pendidikan anaknya. Mereka berpendapat, tugas mereka adalah membayar uang sekolah, urusan pendidikan urusan sekolah.
Juga ada pandangan umum bahwa apabila anak mereka sudah menginjak remaja, orang tua tidak perlu mengawasi terlalu dalam tentang pendidikan putra-putrinya, semua diserahkan kepada sekolah. Kecenderungan ini dapat dilihat apabila ada pertemuan orang tua, seminar oang tua, maupun performance anak-anak, orang tua yang anaknya masih kecil biasanya lebih menyempatkan waktu untuk hadir, daripada mereka yang mempunyai anak remaja. Pandangan yang salah ini harus segera dibenahi karena akan membawa dampak yang sangat negatif kepada anak.
Pendidikan yang kaya tercipta secara optimal melalui kolaborasi dari orang tua dan guru, sehingga tercipta harmoni yang sempurna antara rumah dan sekolah. Ini merupakan suatu proses yang dapat membantu anak-anak untuk mengenal diri mereka sendiri dan komunitas di mana mereka berada. Hal ini memampukan mereka untuk dapat membuat keputusan yang bebas tetapi bertanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya.
Supaya pendidikan menjadi lengkap dan efektif, sistim pendidikan seharusnya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual dan fisikal tetapi juga harus mengajarkan nilai-nilai spiritual, moral dan sosial. Di Sekolah Tunas Muda, dengan tm e-ducation systemnya, sistim pendidikan yang seimbang itu digambarkan dengan 5 bintang, yang mencerminkan bahwa dengan kolaborasi dengan orang tua, guru dan komunitas sekitar, dan melalui pendidikan rohani, pendidikan moral dan pendidikan akademis yang saling melengkapi, dan dengan kepercayaan bahwa setiap anak adalah unik, mereka berhak berkembang dalam semua aspek kehidupannya, dan menjadi terbaik menurut talenta masing-masing, diharapkan dapat terbentuk individu-individu yang utuh dan seimbang, siap untuk menghadapi berbagai tantangan di kehidupan mereka di masa mendatang.
KOLABORASI ORANG TUA-GURU-ANAK
Salah satu aspek utama yang ditawarkan di Sekolah Tunas Muda yang berada di Meruya dan Kedoya, Jakarta Barat ini adalah program CARE yang dibentuk untuk menyediakan wadah yang konkrit dalam menyediakan pendidikan yang menyeluruh dan personal untuk para siswanya. Program CARE ini bertujuan meningkatkan kolaborasi antara rumah-sekolah-komunitas luar melalui diantaranya dengan mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam pendidikan putra-putrinya. Para orang tua sebagai partner dalam pendidikan putra-putrinya, diberikan seminar dan workshop untuk orang tua supaya dapat secara efektif menjalankan peran mereka yang vital ini.
Dan yang unik dari program CARE ini adalah sistim Mentoringnya, dimana setiap siswa mendapat mentor pribadi, dimana siswa – mentor – orang tua mengembangkan suasana akrab, untuk memupuk rasa saling percaya untuk menciptakan keharmonisan antara rumah dan sekolah.
PERKEMBANGAN SPIRITUAL ANAK
Dalam bidang spiritual, peran orang tua sangat vital. Taat beragama atau tidaknya seorang anak banyak dipengaruhi oleh contoh dan cara orang tua mereka menjalankan ibadahnya. Orang tua tidak dapat menyerahkan pendidikan agama ke sekolah, walaupun sekolah tersebut berbasis agama. Di dunai modern ini banyak sekolah yang tidak berbasis agama, dimana pelajaran agama diberikan menurut kepercayaan masing-masing. Komunitas sekolah yang beragam ini mempunyai nilai positif karena komunitas seperti ini mencerminkan keadaan di masyarakat global pada saat ini dimana anak-anak kita tidak mungkin hanya bergaul dengan orang-orang yang satu iman saja, anak-anak diajarkan untuk terbiasa bersikap toleran dan hormat terhadap agama lain, sehingga mereka dapat berperan dalam terciptanya perdamaian dunia.
PERKEMBANGAN KARAKTER ANAK
Pembentukan karakter anak juga sangat dipengaruhi oleh karakter, perilaku bahkan kata-kata yang biasa diucapkan oleh orang tua. Banyak anak yang merasa kurang percaya diri, atau terlalu percaya diri karena kesalahan pola asuh orang tua, Banyak anak yang menjadi kurban pelecehan dari orang tuanya secara fisik, tetapi tanpa disadari banyak dari kita sebagai orang tua melukai anak dengan kata-kata kita, yang juga dapat ‘membunuh’ anak kita. Kata-kata sederhana seperti ‘anak bodoh’, anak sial’, ‘anak malas’, ‘anak nakal’, ‘si buruk rupa’, ‘kamu tidak sepintar kakakmu’, dapat meninggalkan luka yang sangat dalam di diri anak-anak, yang nantinya akan sangat berpengaruh dalam perkembangan karakternya.
Peran penting orang tua dalam perkembangan mental dan emosi anak perlu diimbangi dengan peran sekolah dalam pendidikan karakter anak. Salah satu program pendidikan yang sangat kuat mengarahkan anak dalam pembentukan karakternya adalah program International Baccalaureate, dimana program ini memfokuskan pembentukan setiap individu secara utuh dan seimbang, dengan sederetan karakter yang menjadi tujuan tercapainya program pendidikan ini, yang biasa disebut ‘Learner Profile’, setiap anak diharapkan dapat mengembangkan sikap yang bertanggung jawab, penuh empati, berintegritas, berprinsip, dan sikap-sikap lain yang menyiapkan mereka sebagai inidividu yang sukses sebagai masyarakat global.
PERKEMBANGAN AKADEMIS ANAK
Diantara perkembangan spiritual, emosi, mental, dan akademis, bidang ini adalah bidang dimana sekolah mempunyai andil yang lebih besar dari orang tua. Oleh karena itu perlu dicermati program akademis sekolah yang menjadi tujuan orang tua bagi putra-putrinya. Sekali lagi kita sebagai orang tua perlu menanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita ingin anak kita menjadi seorang individu yang berkembang secara utuh dan seimbang, atau kita ingin anak kita menjadi juara olimpiade sains, atau yang penting anak kita bisa berbahasa mandarin dan inggris dengan cas cis cus sehingga membuat bangga para orang tua, terutama para ibu, apabila membawa putra-putrinya ke mal-mal, tanpa menyadari bahwa seorang anak tidak akan mempunyai identitas diri yang kuat, seperti sebuah pohon yang tidak mempunyai akar kuat, apabila tidak bersandar pada budayanya, termasuk bahasa ibunya.
Dalam program International Baccalaureate yang selama lebih dari 40 tahun ini telah mendapat reputasi baik untuk standar akademiknya yang tinggi, dan lulusannya diterima di universitas-universitas ternama di dunia, walaupun program ini mewajibkan setiap anak harus minimal fasih dalam dua bahasa, tetapi program ini menekankan bahwa setiap siswanya harus mempelajari bahasa ibu mereka dahulu, sebelum mempelajari bahasa kedua yang menjadi pilihan mereka. Hal ini dilandasi oleh filosofi pendidikan yang benar bahwa untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menemukan identitasnya dan mampu menjadi anggota masyarakat global yang sukses, anak kita harus mempunyai landasan budaya yang kuat.
Progam IB yang diajarkan di 2,740 IB World School, di 138 negara yang menyebar di seluruh dunia, yang membina 755.000 siswa ini juga tidak hanya bertujuan untuk membentuk pelajar yang berkembang hanya secara akademis, tetapi berfokus untuk mengembangkan sederetan profil/ karakter, yang disebut learner profile, bahwa diharapkan siswa lulusan IB adalah siswa yang berkembang sebagai individu yang seimbang dan utuh.
Hal ini sesuai dengan misi IB, yaitu untuk mengembangkan generasi muda yang berpengetahuan, penuh rasa ingin tahu, dan berbelas kasih, yang membantu terciptanya dunia yang lebih baik dan damai, melalui pemahaman dan rasa hormat antar bangsa dan budaya.
ANAK KITA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG UNIK
Sebagai orang tua harus sadar dan menerima bahwa setiap anak kita unik, anak pertama, berbeda dengan anak kedua. Bahkan saudara kembarpun berbeda. Oleh karena itu, sebagai orang tua juga harus menyadari bahwa mungkin anak pertama kita unggul di matematika, tetapi anak kedua kita sangat lemah dimatematika. Tetapi apakah berarti anak kedua kita bodoh? Pasti anak tersebut mempunyai talenta di bidang lain, yang tidak dimilik kakaknya. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk membantu masing-masing anak kita untuk menemukan keunggulannya, tanpa membanding-bandingkan dengan saudara kandungnya, apalagi dengan anak teman kita, atau dengan teman mereka.
Sebagai orang tua kita perlu dengan cermat meneliti bagaimana sebuah sekolah memperlakukan setiap anak, apakah sekolah tersebut menempa semua anak dengan tujuan menjadi juara Olympiade matematika, padahal anak kita berbakat dalam bidang bahasa atau ilmu sosial misalnya. Apa yang terjadi? Anak kita akan merasa gagal dan bodoh karena dalam pandangan guru, mungkin juga kita sebagai orang tua, dan anak itu sendiri, bahwa karena dia lemah dalam bidang matematika, dirinya adalah anak bodoh. Hal ini akan berdampak negatif, bahkan mungkin merusak masa depannya. Padahal kalau kita pikirkan dengan hati-hati berapa anak yang akan menjadi juara Olympiade matematika diantar ratusan bahkan ribuan anak. Dan kalaupun anak kita juara Olympiade matematika, apakah masa depan anak kita akan terjamin?. Masa depan setiap anak adalah masa depan yang cerah, apabila kita sebagai orang tua bijaksana dalam mengarahkan mereka, termasuk memilihkan sekolah yang tepat bagi mereka.
Di Sekolah Tunas Muda, setiap individu adalah sebuah “Shinning star – Bintang yang Bersinar”; manusia yang unik dan istimewa dengan kemampuan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya, untuk menjadi yang terbaik menurut talenta masing-masing.
Sistim pendidikan dan lingkungan sekolah yang mengayomi dapat memacu keinginan dalam setiap anak untuk mengembangkan rasa bangga pada diri mereka untuk selalu berusaha mencapai kemampuan terbaik mereka sebagai seorang yang seimbang dan berkembang secara utuh, untuk mengembangkan kualitas dan keterampilan yang diperlukan sebagai pembelajar sejati dan sebagai bagian dari masyarakat global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar